28.6 C
Jakarta
Friday, August 29, 2025

Trotoar Jalan TB Simatupang Jadi Sorotan Warga karena Alih Fungsi dan Kemacetan

Must read

Jakarta Selatan kembali jadi perbincangan setelah muncul wacana trotoar jalan TB Simatupang dialihfungsikan untuk mengurangi kemacetan. Langkah ini memicu pro dan kontra karena sebagian pihak menilai solusi tersebut dapat mengurangi hak pejalan kaki, sementara pemerintah beralasan bahwa kemacetan parah di jalur strategis ini butuh penanganan segera. Trotoar yang seharusnya aman bagi pejalan kaki kini terancam digunakan sebagai jalur tambahan kendaraan.

Keputusan ini muncul setelah serangkaian kajian mengenai kemacetan yang semakin meningkat di kawasan TB Simatupang. Sebagai salah satu jalur vital yang menghubungkan berbagai kawasan bisnis, perkantoran, hingga akses tol, jalan ini sering kali lumpuh terutama pada jam sibuk. Namun, rencana alih fungsi trotoar TB Simatupang memunculkan pertanyaan besar: apakah ini solusi terbaik atau justru menciptakan masalah baru?

Trotoar TB Simatupang dan Polemik Alih Fungsi

Isu trotoar TB Simatupang mencuat setelah Pemerintah Kota Jakarta Selatan mempertimbangkan opsi menggunakan sebagian trotoar sebagai jalur kendaraan sementara di titik proyek pembangunan. Menurut pihak terkait, langkah ini hanya akan diberlakukan pada area terbatas dan tidak akan mengganggu seluruh hak pejalan kaki.

Namun, banyak aktivis transportasi dan pejalan kaki menolak ide tersebut. Mereka berpendapat bahwa alih fungsi trotoar bisa menjadi preseden buruk, di mana fasilitas publik yang seharusnya untuk pedestrian dikorbankan demi kendaraan bermotor. Bahkan, organisasi pejalan kaki menegaskan bahwa seharusnya pemerintah memperbaiki manajemen lalu lintas, bukan mengambil hak ruang pejalan.

Penyebab Kemacetan TB Simatupang

Jika ditilik lebih dalam, penyebab kemacetan TB Simatupang tidak hanya soal lebar jalan atau trotoar. Ada beberapa faktor yang membuat arus lalu lintas di kawasan ini kerap macet parah:

  1. Volume kendaraan tinggi – kawasan TB Simatupang adalah pusat perkantoran, bisnis, hingga akses tol dalam kota.
  2. Proyek infrastruktur – pembangunan flyover, underpass, dan proyek MRT turut memakan badan jalan.
  3. Alih fungsi lahan – banyak trotoar digunakan untuk parkir liar, pedagang kaki lima, atau akses proyek.
  4. Kurangnya transportasi publik efektif – meskipun ada MRT, integrasi dengan feeder transportasi belum maksimal.

Kemacetan ini sering kali membuat perjalanan di jalur TB Simatupang yang seharusnya hanya 20 menit bisa memakan waktu hingga 1,5 jam pada jam sibuk.

Solusi Kemacetan TB Simatupang

Daripada mengorbankan trotoar, banyak ahli transportasi menawarkan beberapa solusi kemacetan TB Simatupang yang lebih manusiawi:

  • Optimalisasi transportasi umum: meningkatkan kapasitas MRT, bus, dan angkutan feeder.
  • Manajemen lalu lintas pintar: penggunaan sistem ATCS (Area Traffic Control System) dan rekayasa jalan.
  • Penertiban parkir liar dan PKL yang kerap menutup sebagian jalur.
  • Penerapan jalur khusus kendaraan umum untuk mengurangi dominasi mobil pribadi.
  • Pengembangan carpooling untuk mengurangi jumlah kendaraan per individu.

Dengan langkah ini, pemerintah tidak perlu mengurangi hak pejalan kaki. Justru memperbaiki integrasi transportasi publik akan lebih efektif mengurai macet di jangka panjang.

Dampak Alih Fungsi Trotoar bagi Warga

Jika benar dilakukan, alih fungsi trotoar TB Simatupang bisa berdampak pada banyak hal. Dampak positif tentu saja ada, yaitu mengurangi kepadatan lalu lintas di titik tertentu. Namun, dampak negatifnya juga besar:

  • Keselamatan pejalan kaki menurun karena mereka harus berbagi jalan dengan kendaraan.
  • Akses difabel terganggu, mengingat trotoar seharusnya ramah kursi roda dan penyandang disabilitas.
  • Lingkungan kota makin tidak ramah pedestrian, padahal Jakarta sedang menuju kota modern berbasis pejalan kaki.
  • Kemungkinan penyalahgunaan, jika dibiarkan, trotoar bisa semakin sering dipakai kendaraan di luar jam darurat.

Respon Pemerintah dan DPRD

Wali Kota Jakarta Selatan menegaskan bahwa langkah ini masih dalam tahap kajian, belum diputuskan sepenuhnya. Pihak DPRD DKI Jakarta juga ikut memberikan perhatian, sebagian mendukung dengan alasan mengatasi macet, sebagian lain menolak dengan menilai hal ini hanya solusi sementara.

Sementara itu, PKB sebagai salah satu partai politik di Jakarta mendukung wacana ini dengan catatan tidak boleh mengusik hak pejalan kaki. Hal ini menunjukkan bahwa meski ada upaya mencari solusi, perdebatan mengenai keadilan akses ruang publik masih hangat diperbincangkan.

Apakah Trotoar TB Simatupang Akan Dialihfungsikan Permanen?

Pertanyaan yang muncul adalah apakah kebijakan ini akan permanen atau hanya sementara. Pemerintah menegaskan, jika dilakukan, alih fungsi hanya berlaku di titik proyek dan bersifat sementara. Setelah proyek infrastruktur selesai, trotoar akan dikembalikan ke fungsi semula.

Meski begitu, masyarakat tetap khawatir. Pengalaman di beberapa wilayah lain menunjukkan bahwa langkah sementara sering kali menjadi permanen karena lemahnya pengawasan. Oleh sebab itu, warga di sekitar TB Simatupang terus memantau kebijakan ini agar tidak berakhir merugikan pejalan kaki.

Polemik trotoar jalan TB Simatupang menunjukkan betapa kompleksnya masalah lalu lintas di Jakarta. Alih fungsi trotoar mungkin memberi solusi instan, tetapi berpotensi menimbulkan masalah baru dalam jangka panjang. Pemerintah perlu mencari solusi menyeluruh yang berpihak pada semua pengguna jalan, baik kendaraan bermotor maupun pejalan kaki.

Alih fungsi bisa menjadi opsi darurat, namun perencanaan transportasi jangka panjang yang berbasis transportasi publik dan pedestrian tetap menjadi kunci. Dengan begitu, Jakarta bisa menjadi kota modern yang ramah semua kalangan.

FAQ

1. Mengapa trotoar jalan TB Simatupang ramai diperbincangkan?
Karena ada wacana alih fungsi trotoar menjadi jalur kendaraan untuk mengatasi macet.

2. Apakah alih fungsi trotoar TB Simatupang permanen?
Pemerintah menegaskan hanya sementara, khusus di titik proyek, bukan permanen.

3. Apa penyebab kemacetan TB Simatupang?
Volume kendaraan tinggi, proyek infrastruktur, parkir liar, dan kurangnya transportasi publik efektif.

4. Solusi apa selain alih fungsi trotoar?
Optimalisasi transportasi publik, penertiban parkir liar, sistem lalu lintas pintar, dan jalur khusus angkutan umum.

5. Bagaimana dampak alih fungsi trotoar bagi pejalan kaki?
Dapat mengurangi kenyamanan, mengganggu difabel, dan menurunkan keselamatan pedestrian.

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest article