Di tengah gemerlapnya Ibu Kota yang terus berkembang, ternyata masih banyak tempat ibadah tua yang menyimpan kisah sejarah luar biasa. Masjid bersejarah di Jakarta bukan hanya menjadi tempat ibadah semata, melainkan saksi bisu perkembangan Islam sejak masa kolonial hingga kini. Beberapa di antaranya bahkan sudah berumur lebih dari 300 tahun, lengkap dengan arsitektur kuno yang memikat hati para pecinta sejarah.
Masjid-masjid ini tersebar di berbagai wilayah Jakarta, dari Jakarta Barat hingga Jakarta Timur, masing-masing membawa cerita unik dan nilai religius yang kuat. Tak heran bila masjid-masjid ini sering dijadikan destinasi wisata religi oleh warga lokal maupun pelancong dari luar kota. Mengunjungi masjid bersejarah di Jakarta memberikan sensasi berbeda, seperti kembali ke masa lalu sembari meresapi kekhusyukan spiritual.
Masjid Al-Anwar: Simbol Keberagaman di Tambora
Salah satu masjid tertua di Jakarta adalah Masjid Al-Anwar yang terletak di Tambora, Jakarta Barat. Didirikan pada abad ke-18, masjid ini dikenal juga dengan nama Masjid Pekojan. Arsitekturnya menunjukkan pengaruh Arab dan Tionghoa, mencerminkan keberagaman masyarakat Pekojan pada masa lalu.
Selain menjadi pusat dakwah, masjid ini juga merupakan tempat berkumpulnya pedagang muslim dari berbagai negara. Dengan bangunan berwarna hijau dan menara khas Timur Tengah, masjid ini masih aktif digunakan hingga hari ini. Masjid Al-Anwar menjadi representasi kuat dari harmoni lintas budaya yang pernah mewarnai Jakarta Barat.
Masjid Luar Batang: Daya Tarik Religi di Utara Jakarta
Berpindah ke Jakarta Utara, Masjid Luar Batang jadi destinasi wajib bagi pencinta wisata religi. Masjid ini dibangun pada abad ke-18 oleh seorang ulama besar, Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus. Lokasinya dekat dengan Pelabuhan Sunda Kelapa, menjadikannya strategis sebagai tempat ibadah dan dakwah para pelaut dan pedagang.
Yang membuat masjid ini istimewa adalah keberadaan makam Habib Husein di dalam kompleks masjid. Tak hanya masyarakat Jakarta, peziarah dari berbagai daerah pun kerap datang untuk berdoa. Masjid ini pun menjadi ikon religi Jakarta Utara yang tetap eksis dan dirawat dengan baik hingga saat ini.
Masjid Jami Kampung Baru: Warisan Islam Betawi
Di Jakarta Pusat, Masjid Jami Kampung Baru menandai jejak peradaban Islam Betawi. Didirikan pada abad ke-18, masjid ini masih mempertahankan struktur kayu jati dan atap tumpang yang khas. Bangunan ini sederhana, tapi sangat bernilai historis.
Terletak di kawasan Tanah Abang, masjid ini dulu menjadi pusat kegiatan warga Betawi dan hingga kini terus difungsikan sebagai tempat ibadah harian dan kegiatan sosial. Nilai sejarahnya membuat masjid ini sering dikunjungi pelajar dan peneliti sejarah arsitektur Islam di Indonesia.
Masjid Jami Al-Makmur: Masjid Tua di Jakarta Selatan
Jika mencari masjid tertua di Jakarta Selatan, maka Masjid Jami Al-Makmur di Pancoran wajib disinggahi. Masjid ini berdiri sejak abad ke-19 dan dikenal karena suasananya yang tenang di tengah hiruk pikuk perkotaan. Arsitektur klasiknya mengadopsi gaya arsitektur kolonial yang masih terjaga.
Masyarakat sekitar sangat menjaga kelestarian masjid ini. Bahkan, pada bulan Ramadhan, Masjid Jami Al-Makmur menjadi pusat kegiatan keagamaan mulai dari buka puasa bersama hingga kajian Islam. Masjid ini menjadi bukti bahwa warisan sejarah bisa tetap hidup berdampingan dengan modernitas.
Masjid Jami Al-Mansyur: Warisan Panjang di Tambora
Satu lagi masjid tertua di Jakarta Barat yang tak boleh dilewatkan adalah Masjid Jami Al-Mansyur. Masjid ini didirikan oleh Pangeran Jayakarta pada abad ke-18 dan memiliki peran penting dalam perlawanan terhadap penjajah.
Bangunannya kokoh dengan tiang-tiang kayu besar yang masih asli sejak awal didirikan. Tak hanya itu, masjid ini juga menjadi tempat belajar agama bagi masyarakat sejak dahulu. Keaslian dan nilai sejarahnya membuat Masjid Al-Mansyur sering dijadikan lokasi studi sejarah dan budaya Betawi.
Masjid Cut Meutia: Bekas Gedung Belanda yang Disulap Jadi Masjid
Uniknya, Masjid Cut Meutia di Menteng dulunya bukanlah masjid. Bangunan ini awalnya adalah kantor arsitek Belanda, yang kemudian dialihfungsikan sebagai tempat ibadah. Karakter arsitekturnya bergaya art deco yang jarang ditemukan di masjid lain.
Masjid ini memiliki orientasi kiblat yang unik karena tidak mengubah posisi bangunan aslinya. Itulah sebabnya posisi saf shalat dibuat diagonal. Masjid ini kini jadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat Jakarta Pusat dan simbol adaptasi kreatif arsitektur kolonial menjadi ruang spiritual.
Masjid Jami Kebon Jeruk: Bukti Jejak Sejarah Islam Awal
Bagi warga Jakarta Barat, Masjid Jami Kebon Jeruk adalah simbol penting dari penyebaran Islam masa lampau. Dibangun pada abad ke-18, masjid ini punya ciri khas atap limas bertingkat dan struktur kayu yang kuat.
Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini dikenal karena menjadi tempat tinggal dan belajar para santri dari berbagai daerah. Letaknya yang tersembunyi di balik gang membuat suasananya begitu damai dan penuh khidmat. Arsitektur tradisionalnya jadi daya tarik tersendiri bagi pecinta sejarah dan budaya Islam.
Masjid Jami Al-Atiq: Masjid Tertua di Jakarta Timur
Di kawasan Cakung, Jakarta Timur, terdapat Masjid Jami Al-Atiq yang dipercaya sebagai masjid tertua di kawasan tersebut. Dibangun pada abad ke-18, masjid ini menjadi pusat dakwah dan tempat singgah para musafir dari luar kota.
Arsitektur masjid ini sangat sederhana, namun memiliki aura spiritual yang kuat. Sampai sekarang, masjid ini masih menjadi tempat ibadah aktif dan kerap menggelar kegiatan sosial dan keagamaan rutin yang diikuti warga sekitar.
Masjid Fatahillah: Ikon Kota Tua yang Megah
Masjid Fatahillah terletak di dekat Museum Fatahillah dan menjadi bagian dari kawasan Kota Tua. Meski usianya tidak setua masjid lain dalam daftar ini, keberadaannya sangat penting karena mendukung fungsi kawasan Kota Tua sebagai pusat wisata sejarah.
Masjid ini berdesain modern namun tetap mempertahankan elemen klasik pada beberapa bagiannya. Dengan lokasi yang strategis, Masjid Fatahillah sering dikunjungi wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang ingin merasakan nuansa religi di tengah kawasan bersejarah Jakarta.
Mengunjungi masjid bersejarah di Jakarta bukan hanya soal ibadah, tetapi juga menyusuri jejak panjang peradaban Islam di Ibu Kota. Setiap masjid memiliki cerita unik, arsitektur khas, dan peran besar dalam kehidupan sosial masyarakat dari masa ke masa.
Dalam hiruk pikuk kota modern, masjid-masjid tua ini hadir sebagai pengingat bahwa spiritualitas dan sejarah tetap punya tempat penting. Baik untuk tujuan ibadah, studi sejarah, maupun sekadar wisata religi, masjid-masjid ini adalah aset budaya yang patut dijaga dan terus diperkenalkan ke generasi masa depan.
FAQ
Apa saja masjid tertua di Jakarta?
Beberapa di antaranya adalah Masjid Al-Anwar, Masjid Luar Batang, Masjid Jami Kebon Jeruk, dan Masjid Jami Al-Mansyur.
Di mana lokasi Masjid Cut Meutia?
Masjid Cut Meutia terletak di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.
Apakah semua masjid ini masih aktif digunakan?
Ya, sebagian besar masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah dan pusat kegiatan keagamaan masyarakat.
Apa keunikan Masjid Jami Kampung Baru?
Masjid ini mempertahankan bangunan kayu jati asli dan atap tumpang khas Betawi.
Apakah masjid-masjid ini bisa dikunjungi untuk wisata religi?
Tentu saja, banyak wisatawan lokal dan luar daerah yang datang untuk wisata religi dan belajar sejarah Islam di Jakarta.